Visualindonesia.com,-
Setelah 14 tahun menjadi lagu ikonik yang dinyanyikan Maudy Ayunda dalam film adaptasi novelnya, “Perahu Kertas” akhirnya dinyanyikan langsung oleh Dee Lestari, penulis sekaligus pencipta lagu tersebut.
Single versi baru ini resmi rilis serempak di semua platform streaming pada 28 Januari 2026, lengkap dengan video lirik yang memadukan footage interpretasi fans serta keindahan pantai Gili Terawangan.
Perjalanan karya ini memang tak pernah berhenti mengalir. Bermula sebagai cerbung digital pertama di Indonesia tahun 2007, novel Perahu Kertas Dee Lestari kemudian terbit sebagai buku cetak pada 2008, diadaptasi menjadi film laris “Perahu Kertas 1 & 2” (2012), di mana lagu OST “Perahu Kertas” yang dibawakan Maudy Ayunda meraih Piala Maya untuk Original Soundtrack Terbaik.
Kini, di akhir Januari 2026, karya yang sama dihidupkan kembali sebagai pentas musikal megah oleh Trinity Optima Production dan Indonesia Kaya, yang akan tayang mulai 30 Januari hingga 15 Februari 2026 di Ciputra Artpreneur, Jakarta.
Untuk mengisi album solo ketiganya yang direncanakan rilis pertengahan 2026, Dee Lestari memilih membawakan ulang lagu legendarisnya ini sebagai single kedua. Tantangan besar menghidupkan kembali lagu dengan ratusan juta streaming membuatnya berkolaborasi dengan produser ternama Petra Sihombing.
Aransemen baru ini meninggalkan gitar akustik khas versi lama, beralih ke gitar elektrik yang lebih edgy dan dinamis, dengan klimaks yang lebih kuat serta harmoni vokal kaya berkat vocal director Kamga Mo yang juga menyumbang backing vocal.
Hasilnya adalah “Perahu Kertas” versi dewasa, megah, namun tetap mempertahankan magis orisinal yang membuatnya abadi: cerita universal tentang mengejar mimpi, menemukan cinta, dan merelakan hati di fase kehidupan apa pun.
Video liriknya semakin memperkuat pesan itu, merajut suara pembaca buku Dee yang menginterpretasikan lirik dengan visual pantai yang romantis.
Rilis ini tak hanya menandai kembalinya Dee Lestari sebagai penyanyi dan pencipta lagu garis depan, tapi juga bukti kelanggengan sebuah karya yang terus bereinkarnasi, dari kata, layar lebar, panggung musikal, hingga suara sang pencipta sendiri.
(*/ell; foto: ist




