Visualindonesia.com,-
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) mendorong pengembangan musik jazz sebagai salah satu penggerak ekosistem ekonomi kreatif berkelanjutan. Meski memiliki segmentasi yang relatif eksklusif, jazz dinilai mempunyai basis penikmat yang loyal dan potensi bisnis yang kuat.
Hal ini mengemuka dalam audiensi Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, bersama musisi Berry Likumahuwa dan kreator film Jeremy Teja Sanger, Kamis (2/4).
Dalam pertemuan tersebut, Irene menekankan pentingnya merancang sebuah pertunjukan jazz yang tidak hanya kuat secara artistik, tetapi juga matang dari sisi bisnis. Ia mendorong setiap elemen acara dipersiapkan secara menyeluruh, mulai dari kurasi talenta, konsep kolaborasi, hingga pascaacara.
“Kita harus melihat ini sebagai sebuah ekosistem. Pertunjukan jazz tidak berdiri sendiri, tetapi bisa terhubung dengan subsektor lain seperti kuliner, fesyen hingga industri perhotelan. Kolaborasi ini bukan hanya memperkaya pengalaman audiens, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru yang berkelanjutan bagi para pelaku industri,” ujar Irene Umar.
Kementerian Ekraf yang menaungi 17 subsektor memandang kolaborasi lintas subsektor menjadi kunci dalam membangun ekosistem yang sehat. Musik, sebagai salah satu subsektor strategis, memiliki peluang besar untuk berkembang jika mampu bersinergi dengan sektor lain yang sejalan.
Inisiatif pertunjukkan yang digagas Berry Likumahuwa bersama Jeremy Teja Sanger menjadi salah satu contoh konkret dari kolaborasi tersebut. Konsep yang dikembangkan tidak hanya menghadirkan konser jazz, tetapi juga dikemas dalam bentuk film dokumenter serta melibatkan talenta muda dari berbagai daerah di Indonesia.
Berry Likumahuwa menyebut, audiensi tersebut memberikan perspektif baru dalam mengembangkan konsep pertunjukan yang lebih luas dan terintegrasi.
“Audiensi ini membantu kami melihat bagaimana setiap elemen dalam ekonomi kreatif bisa saling terhubung. Selama hampir 20 tahun saya berkarya di industri ini, tantangan terbesar adalah kurangnya sinergi. Masukan dari Ibu Wamen mendorong kami untuk mengembangkan ide ini menjadi lebih eksploratif dan berdampak,” ujarnya.
Sementara itu, Jeremy Teja Sanger, menilai dukungan dan keterlibatan pemerintah menjadi sinyal positif bagi pelaku industri kreatif untuk terus berinovasi. Kolaborasi antara musik dan film yang tengah dirancang diharapkan tidak hanya menjadi karya kreatif, tetapi juga menjadi model pengembangan ekosistem yang berkelanjutan di Indonesia.
(*/ell; foto: dok. Kemenekraf/Bekraf





