Visualindonesia.com,-
Di bawah langit Jakarta yang kerap bergemuruh riuh rendah menyambut pergantian tahun, kini ada sunyi yang menyelinap, membawa cerita tentang kembang api yang tak lagi semarak. Pasar Asemka, jantung denyut ekonomi mikro Ibu Kota, aroma mesiu yang dulu semerbak kini samar.
Para pedagang kembang api, yang setiap menjelang Tahun Baru menggantungkan harapan pada nyala warna-warni, menghadapi realitas pahit: omzet penjualan kembang api dan petasan mereka terjun bebas, sebuah pukulan telak bagi UMKM di tengah gempita perayaan.
Sejatinya, momen pergantian tahun selalu menjadi ladang rezeki melimpah bagi para pedagang di Pasar Asemka, Jakarta Barat. Namun, pada Rabu, 30 Desember 2025, suasana di sana tak segairah tahun-tahun sebelumnya.
Para penjual yang biasanya disibukkan oleh dering transaksi dan tawar-menawar kini lebih banyak bersandar, memandang lapak dagangan mereka yang tak seramai dulu. Omzet harian yang setahun lalu bisa mencapai Rp300.000 hingga Rp500.000 per hari, kini hanya mampu menyentuh angka Rp200.000 hingga Rp300.000.

Sebuah penurunan signifikan yang memaksa mereka memutar otak, mencari cara agar dapur tetap mengepul di tengah himpitan ekonomi yang kian menantang.
Fenomena ini, menurut penuturan beberapa pedagang, tak lepas dari kebijakan pemerintah setempat. Himbauan larangan pesta kembang api yang digalakkan, meskipun bertujuan menjaga ketertiban dan keamanan, secara tak langsung memadamkan asa para pedagang kecil.
Kembang api dan petasan, yang dulunya menjadi simbol kemeriahan tak terpisahkan dari perayaan tahun baru, kini harus berhadapan dengan aturan yang membatasi ruang geraknya.
Ini bukan hanya soal angka-angka penjualan, melainkan juga cerminan bagaimana sebuah kebijakan dapat meresap hingga ke akar rumput perekonomian, memengaruhi nasib ribuan pedagang kecil yang menggantungkan hidup dari denyut nadi perayaan.
Kini, pertanyaan besar pun muncul: bagaimana nasib para pedagang kembang api ini selanjutnya? Akankah mereka menemukan pijakan baru, ataukah gemerlap kembang api di Asemka hanya akan menjadi kenangan samar yang digantikan oleh kesunyian?
(*/den; foto: dsp







