Visualindonesia.com,-
Sebelas tahun lalu, Harry Roesli meninggalkan warisan musik progresif yang tak lekang waktu.
Kini, di tengah hiruk-pikuk industri musik yang mengejar algoritma dan durasi tiga menit, Serdadu Sam berani melawan arus dengan merilis “Kronik”, sebuah album penuh berisi 13 trek yang bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan dokumentasi batin tentang kegelisahan, kegagalan, dan perjuangan hidup yang terus bergulir.
Album perdana Serdadu Sam ini resmi dirilis 16 Januari 2026 lalu melalui kerja sama dengan label rekaman demajors dan dapat didengarkan di berbagai platform streaming digital seperti Spotify, YouTube Music, TikTok Music, Apple Music, dan Langit Musik.
Kenny, sosok di balik Serdadu Sam, menegaskan bahwa “Kronik” bukan album komersial biasa.
“Saya sedang menulis catatan untuk dipahami, oleh siapa pun yang pernah merasa sendiri, lelah, tidak berdaya dihantam kerasnya kehidupan, dan ditelan kekecewaan di tengah keramaian, namun tetap harus berjuang menjalani hidup yang terus berjalan,” ungkapnya.
Konsep album yang dirancang sejak 2021 ini dibangun dari pengalaman pribadi, hasil observasi, serta cerita orang-orang terdekat yang diterjemahkan ke dalam lirik berbahasa Indonesia yang naratif namun tetap puitis.
Menolak pola konvensional industri musik, 13 trek dalam “Kronik” dirangkai sebagai bab-bab kehidupan yang memotret ambisi dan ketamakan, kegagalan, perpisahan, pertobatan, kehilangan, hingga kobaran semangat untuk hidup lebih baik.
Salah satu lagu yang mencuri perhatian adalah ‘Kalibut’, sebuah nomor progresif rock berdurasi lebih dari 12 menit tentang konflik Gaza.
“Saya tak ingin dibatasi aturan industri soal durasi. Cerita sebuah lagu selesai saat ia selesai, bukan saat timer berhenti,” tegas Kenny.
Album ini juga menghadirkan reinterpretasi “Setengah Tiang” karya maestro Harry Roesli yang dihidupkan kembali melalui sentuhan brass dan emosi kontemporer dengan restu keluarga almarhum, serta single unggulan ‘Dan Akhirnya Selamanya’, kolaborasi dengan Bemby Gusti yang menjadi pesan personal Kenny untuk kedua putrinya.
Serdadu Sam sebelumnya telah mencuri perhatian lewat single ‘Kami adalah Badai’ dan ‘Agrippina’ yang pernah masuk nominasi AMI Awards 2022 untuk kategori Karya Produksi Progressive Terbaik, menjadi fondasi gaya musiknya yang progresif, melankolis, dan eksperimental.
Dalam proses kreatif “Kronik”, Kenny melibatkan sederet kolaborator ternama seperti Rama Moektio, Dave Lumenta, Bemby Gusti, Mondo Gascaro, Denny Chasmala, hingga Moscow Metropolitan Session Orchestra.
Sebagian besar produksi dilakukan di Studio 168, diproduseri oleh Serdadu Sam bersama Fay Ismail, dengan mixing oleh Fay dan mastering oleh Dimas Pradipta.
“Kolaborasi adalah pola kerja yang saya nikmati karena setiap musisi dapat menyuntikkan nyawa pada lagu-lagu saya,” jelas Kenny.
Untuk memperkenalkan “Kronik” secara langsung kepada pendengar, Serdadu Sam merencanakan showcase promo album yang akan disusul dengan perilisan dalam format fisik dan digital.
“Saya berharap album ini dapat memberikan pengalaman musikal yang berbeda kepada para pendengar yang bersedia memberikan waktu untuk mendengarkan dan mengenal karya ini lebih jauh,” tuturnya memungkasi.
(*/ell; foto: ist







