Visualindonesia.com,-
Di balik sorot kamera dan citra gemerlap dunia hiburan, Aurelie Moeremans menyimpan kisah sunyi tentang luka batin yang akhirnya ia suarakan lewat buku memoar Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth.
Karya ini menjadi penanda keberanian sang aktris membuka pengalaman personal tentang hubungan tidak sehat, trauma emosional, dan proses panjang pemulihan diri, sebuah narasi yang kini menggema luas di ruang publik dan media sosial.
Perbincangan mengenai buku Broken Strings kian menguat setelah artis Hesti Purwadinata membagikan kesan mendalam usai membacanya melalui media sosial pada Selasa (6/1/2026).
Hesti mengaku tersentuh sekaligus prihatin atas pengalaman pahit yang dialami Aurelie, seraya memuji keberaniannya membagikan cerita yang tak mudah diungkapkan, apalagi oleh figur publik.

Dalam memoarnya, Aurelie mengisahkan awal pertemuannya dengan seorang pria yang identitasnya disamarkan, ketika ia masih berada di usia yang sangat muda. Relasi yang semula tampak penuh perhatian perlahan berubah menjadi hubungan yang sarat kontrol, manipulasi emosional, dan janji-janji berlebihan yang menjerat secara psikologis.
Tanpa disadari, tekanan itu hadir secara halus namun konsisten, membuatnya kehilangan ruang untuk menentukan batas dan suara atas dirinya sendiri.
Sebagai pengamat psikologi relasi, pola yang digambarkan Aurelie mencerminkan dinamika hubungan tidak sehat yang kerap luput dikenali: dominasi emosional yang dibungkus kasih sayang, rasa bersalah yang ditanamkan perlahan, hingga ketergantungan emosional yang membuat korban sulit keluar.
Dalam narasinya, Aurelie mengaku kerap merasa tak berdaya untuk menolak, meski menyadari perlakuan yang diterimanya semakin melampaui kewajaran.
Trauma yang ditinggalkan tak berhenti pada relasi itu sendiri. Broken Strings juga mengulas tekanan psikologis, perundungan, dan kekerasan emosional yang meninggalkan bekas jangka panjang terhadap rasa aman, kepercayaan diri, serta cara Aurelie memandang relasi di kemudian hari.
Judul Broken Strings menjadi metafora kehilangan masa muda, tentang kebebasan dan kepolosan yang terenggut sebelum waktunya akibat pengalaman traumatis.
Namun buku ini tidak berhenti pada luka. Melalui fragmen-fragmen reflektif, Aurelie mengajak pembaca menyusuri proses kesadaran diri, penerimaan, hingga upaya berdamai dengan masa lalu.
Di titik inilah memoar ini menemukan kekuatannya: menghadirkan pesan pemulihan yang relevan bagi banyak orang, terutama generasi muda yang kerap terjebak dalam relasi manipulatif tanpa menyadarinya.
Respons pembaca pun mengalir emosional. Banyak yang menilai kisah Aurelie jujur, berani, dan membuka mata tentang pentingnya mengenali tanda-tanda hubungan tidak sehat.
Lewat Broken Strings, Aurelie Moeremans tampil bukan hanya sebagai aktris, tetapi sebagai suara empati yang mendorong kesadaran kolektif bahwa penyembuhan adalah proses, dan setiap luka layak didengar.
Buku Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth dapat diakses melalui tautan resmi yang tersedia di profil Instagram Aurelie Moeremans (@aurelie).
(*/dee; foto: ist






