Visualindonesia.com,-
Di balik gemerlap perayaan Imlek dan hebohnya tabuhan genderang barongsai, ada satu sudut Kota Bogor yang diam-diam sibuk banget. Pada,
Berlokasi di Kelurahan Babakan Pasar, hari itu, Senin (19/1/2026), para perajin liong dan barongsai tengah berjibaku dengan rangka bambu, kain warna-warni, dan detail kepala naga yang bikin melongo. Di sinilah tradisi dirakit, satu demi satu, dengan penuh ketelatenan.
Suasana bengkel tampak hidup, targetnya jelas: satu set barongsai atau liong harus kelar dalam waktu sekitar satu minggu. Bahannya pun bukan kaleng-kaleng.
Sebagian material masih impor demi menjaga kualitas, mulai dari struktur yang kuat sampai warna yang tetap “hidup” meski dipakai loncat-loncat di panggung pertunjukan.

Meski terlihat fun dan penuh warna, proses pembuatannya butuh fokus tingkat tinggi. Setiap detail wajah barongsai, lekuk tubuh liong, sampai gerak yang nantinya terbentuk, dipikirkan matang.
Ini bukan sekadar kostum, tapi simbol budaya yang punya makna dan filosofi panjang, jadi nggak bisa asal jadi.
Hasil karya dari Bogor ini kemudian melanglang buana ke berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari sanggar seni, komunitas budaya, sampai event pariwisata, semua kebagian suplai.
Soal harga, satu set barongsai dibanderol sekitar Rp6 juta, sementara satu set liong di kisaran Rp9 juta. Harga tersebut sebanding dengan kerja tangan, detail, dan kualitas yang ditawarkan.

Keberadaan perajin liong dan barongsai di Babakan Pasar jadi bukti kalau pariwisata budaya itu nggak selalu lahir dari panggung besar.
Kadang, ia tumbuh dari bengkel sederhana, dari tangan-tangan terampil yang setia menjaga tradisi agar tetap relevan, tetap seru, dan tentu saja… tetap eksis di zaman now.
(*/lia; foto: dudut sp







