Visualindonesia.com,-
Dua patung torso karya pematung lokal Blora Witono, yakni tokoh pers nasional Tirto Adhi Soerjo (1880-1918) dan tokoh gerakan samin Samin Surosentiko (1958-1914), bakal dihadiahkan Bupati Blora Arief Rohman kepada PWI Pusat, di tengah perayaan Hari Pers Nasional (HPN), di Banten, 7-9 Februari 2026.
Niat itu disampaikan oleh Ketua PWI Blora Heri Purnomo kepada Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat Yusuf Susilo Hartono, melalui sambungan telpon, Sabtu (31/1/2026).
“Ini sebagai ungkapan terima kasih, karena Pak Bupati Blora termasuk salah satu dari 10 bupati/ walikota yang mendapat penghargaan Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026,” ujarnya.
Disamping itu, tambah Heri, dengan patung itu nantinya menghuni Kantor PWI, Lt.4 Gedung Dewan Pers Jakarta, akan mendapatkan spirit dari kedua tokoh asal Blora tersebut.
“Dari Samin Surosentiko kita bisa belajar antara lain kalau bicara harus menjaga mulut, jujur dan saling menghormati. Sedangkan dari Tirto Adhi Soerjo kita bisa belajar menggunakan jurnalisme tidak hanya untuk melaporkan, tapi juga mengedukasi dan menggerakkan,” imbuhnya.
Menurut Yusuf Susilo Hartono, penyerahan kedua patung dari Bupati Blora ke Ketua Umum PWI Pusat diagendakan pada acara Dialog Kebudayaan bersama Menteri Kebudayaan, di Hotel Horison UPI Serang-Banten, hari Minggu (8/1/2026), pukul 14.00 selesai. Disaksikan Menteri Kebudayaan Fadli Zon, 10 bupati/walikota dan wartawan yang menerima Anugerah Kebudayaan PWI Pusat, para Dewan Juri, serta 100 orang lebih peserta dialog dari berbagai daerah, mulai dari para kepala dinas hingga seniman, budayawan, dan wartawan.
Apik dan Berkarakter
Kedua karya seni patung yang terbuat dari gambol atau bonggol akar kayu jati Blora ini, jika dilihat dari kacamata seni rupa termasuk patung apik, dalam arti mampu menggambarkan wajah yang berkarakter.
Pengamat seni rupa Indonesia Agus Dermawan T, yang menjadi salah satu Dewan Juri Anugerah Kebudayaan PWI Pusat, baru melihat fotonya saja terpesona: “Wah keren. Pahatan wajahnya kena dan berkarakter,“ ujarnya.
Lebih jauh ia menambahkan, patung karya Witono menarik. Mengapa? Penghadiran wajah mendekati presisi, mendekati referensi. Karakter ketokohan berhasil ditampilkan, sehingga sikap kuat dan citra ketinggian intelektualitas sang tokoh bagus tergambarkan. Apalagi didukung penyisaan potongan bonggl kayu tua, yang bisa dianggap sebagai perlambang sejarah besar suatu zaman.
“Patung ini apik. Layak ramai-ramai ditilik,” tandas Agus.
Agus melontarkan ide, dengan hadirnya patung ini bisa mendorong PWI Pusat punya ruang khusus, yang menyimpan “tanda budaya” semua bupati dan wali kota yang pernah memenangkan Anugerah Kebudayaan PWI Pusat. Jadi semacam museum.
(*/den; foto: ist






