Visualindonesia.com,-
Kesunyian bukan lagi penghalang untuk merasakan irama. Di penghujung Januari 2026, Galeri Indonesia Kaya menghadirkan teater musikal Tuli pertama di Indonesia berjudul “Jemari Kecil” oleh komunitas Fantasi Tuli.
Pertunjukan 90 menit ini mempertemukan seniman Tuli dan dengar, membuktikan bahwa musik dan gerak melampaui pendengaran, tetapi tentang rasa, visual, dan emosi tanpa batas kata.
“Jemari Kecil” mengisahkan Mentari, penari Tuli yang kehilangan gairah menari setelah ayahnya (seorang musisi) berpulang. Ia bertemu Awan, produser musik yang membantu menemukan kembali makna gerak dan ritme.
Kisah ini dituturkan melalui perpaduan bahasa isyarat, musik, dan teater — pengalaman emosional tanpa bahasa lisan.

Program Director Galeri Indonesia Kaya, Renitasari Adrian menegaskan, pementasan ini sebagai komitmen membuka panggung bagi keberagaman ekspresi.
“Kolaborasi seniman Tuli dan dengar menunjukkan seni pertunjukan dapat dihadirkan secara inklusif. Perbedaan bukan batas, melainkan kekayaan yang saling melengkapi,” ujarnya.
Fantasi Tuli, komunitas musikal Tuli pertama Indonesia, menjadi pelopor pertunjukan musikal tunggal dari komunitas Tuli di Tanah Air. Pascal Meliala, pimpinan produksi dan penulis naskah, menyebut ini kolaborasi setara dengan sutradara Hasna Mufidah (Tuli) dan Dhea Seto (dengar) yang menghadirkan pendekatan artistik saling melengkapi. Semangat inklusivitas lintas generasi terasa kuat dengan pementas berusia 12-43 tahun.
“Kata ‘musikal’ dan ‘tuli’ seharusnya tidak di kalimat sama. Hal tersulit bukan mengajar teman Tuli menari atau menjelaskan musik, melainkan membuat cerita menghibur,” ungkap Pascal.
“Semangat belajar mereka membuat kami sadar: dengan akses, lingkungan, dan orang yang tepat, semua hal bisa dilakukan,” imbuhnya.
“Jemari Kecil” membuka rangkaian musikal Indonesia hingga Maret 2026, gratis untuk publik. Setelah penampilan 31 Januari 2026, menyusul “Rumah Pikiran & Hati” (7 Feb), “Sie Jin Kwie Ceng Tang” (14 Feb), “Lika-Liku Belakang Panggung” (28 Feb), “Kisah Abadi” (7 Mar), dan “Kakek dan Perahu Kuning” (14 Mar).
Rangkaian mingguan ini menegaskan komitmen Galeri Indonesia Kaya menghadirkan karya seni yang merayakan keberagaman budaya sekaligus mendorong inklusivitas.
Dengan membuka ruang bagi komunitas berkarya, galeri ini menyampaikan cerita relevan kehidupan masyarakat, membuktikan seni adalah milik semua orang tanpa kecuali.
(*/lia; foto: ist







