Horor Korea Kuasai Indonesia: Sineas Lokal Diminta Bangkit!

by -

Visualindonesia.com,-

Industri perfilman Indonesia sedang menghadapi gelombang perubahan mendalam: penonton kini lebih selektif, kritis, dan haus akan kualitas, terutama ketika film horor Korea Selatan berhasil mencuri hati jutaan penonton Tanah Air dengan cerita matang, visual memukau, dan produksi kelas dunia.

Fenomena dominasi sinema horor Korea ini menjadi sorotan utama dalam diskusi panel bertajuk “Pengaruh Film Horor Korea di Indonesia”, yang menghadirkan para praktisi senior seperti sutradara Toto Hoedi, produser Heart Pictures Herty Purba, serta veteran horor Nanang Istiabudi.

Dipandu moderator Irvan, panel ini mengupas mengapa tren ini bukan sekadar mode lewat, melainkan bukti konsistensi kualitas yang membuat penonton rela mengeluarkan biaya tiket bioskop atau berlangganan streaming.

Para panelis sepakat, film horor Korea unggul dalam menyusun ketegangan emosional yang terstruktur, visual detail, serta eksekusi serius yang membuat tontonan terasa “layak bayar”. Nanang Istiabudi, yang telah berkecimpung di genre horor sejak era 1990-an, menekankan lonjakan literasi menonton masyarakat Indonesia.

“Penonton sekarang tak lagi puas dengan jump scare semata. Mereka menginginkan cerita kuat, logis, dan dieksekusi matang. Akses mudah ke film global telah menaikkan standar ekspektasi mereka,” ungkapnya.

Transformasi ini tak bisa dihindari oleh industri lokal. Kualitas sinematografi, desain produksi, hingga materi promosi seperti poster dan trailer kini menjadi kunci menarik penonton ke bioskop maupun platform digital.

Film horor Korea tak hanya dilihat sebagai hiburan menyeramkan, melainkan karya seni visual profesional yang unggul dalam membangun atmosfer, riset mendalam, dan pengembangan karakter.

Di tengah gempuran konten asing, sineas Indonesia didorong beradaptasi tanpa kehilangan identitas budaya.

Para praktisi menyerukan momentum ini sebagai panggilan refleksi bersama: agar film horor Tanah Air tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri, sekaligus mampu bersaing di pasar regional dengan kualitas setara.

(*/cia; foto: dsp

Leave a Reply

No More Posts Available.

No more pages to load.