Visualindonesia.com,-
Di antara gema azan yang segera bersahutan dan udara menjelang Ramadan yang sarat perenungan, musik instrumental eksperimental kembali menemukan ruangnya. Unit asal Kabupaten Bandung, Basajan, merilis single terbaru bertajuk ‘Nadoman’, sebuah karya yang tak sekadar menjadi penanda menuju album penuh perdana mereka, tetapi juga tafsir musikal atas tradisi lisan Sunda yang sarat makna spiritual.
Rilisan ini resmi hadir di berbagai platform digital mulai 13 Februari 2026, membuka babak baru perjalanan Basajan di kancah musik independen Indonesia.
Secara etimologis, Nadoman atau Nadzom, merujuk pada tradisi melantunkan bait-bait pujian, nasihat, hingga ajaran agama dalam bahasa Sunda. Tradisi ini lazim terdengar di langgar atau masjid sebelum waktu salat tiba, menjadi pengantar sunyi menuju ibadah.
Bagi Basajan, Nadoman bukan hanya ritual religius, melainkan ruang kontemplasi budaya yang menyimpan resonansi antara manusia, pencipta, dan semesta. Nilai itulah yang kemudian diterjemahkan ke dalam komposisi instrumental yang khas.
Dalam ‘Nadoman’, Basajan mengeksplorasi pola repetisi dan cengkok melodi ala Sunda yang identik dengan tradisi tersebut, lalu membingkainya dalam lanskap Priangan psychedelic groove, warna musikal yang telah menjadi identitas mereka.
Ketukan ritmis yang enerjik berpadu dengan tekstur suara mengawang, menciptakan suasana yang sekaligus tenang dan liar. Perpaduan itu menjadikan ‘Nadoman’ terdengar kontemplatif, namun tetap memiliki daya dorong yang mengajak tubuh bergerak.
Gitaris Basajan, Adhitama Putra Prakarsa, menjelaskan bahwa karya ini lahir dari upaya memaknai Nadoman sebagai pengingat diri.
“Kami ingin membawa perasaan tenang sekaligus transenden ke ruang lantai dansa yang groovy, tanpa kehilangan sisi psikedelia yang menjadi karakter Basajan,” ujarnya.
Pernyataan itu terasa nyata dalam aransemen berlapis yang memperlihatkan kedewasaan musikal mereka dibanding rilisan sebelumnya.
Jika single ‘1971’ menebarkan atmosfer mistis dan kewaspadaan, maka ‘Nadoman’ menghadirkan sisi reflektif yang lebih intim. Komposisinya dibangun perlahan, seolah mengajak pendengar masuk ke lorong bunyi yang repetitif namun meditatif.
Di sinilah Basajan menunjukkan kemampuan bercerita tanpa lirik, membiarkan instrumen berbicara dan membangun narasi spiritual melalui dinamika dan harmoni.
Eksplorasi tersebut diperkuat oleh visual artwork garapan Yuri Yeuyanan yang menerjemahkan getaran spiritual lagu ke dalam estetika grafis yang selaras dengan konsep album mendatang.
Sementara itu, proses mixing dan mastering dipercayakan kepada Panji Wisnu, memastikan setiap detail sonik terdengar presisi. Single ini dirilis melalui label independen Bahasa Ibu Records dan juga tersedia dalam format unduhan penuh di laman resmi mereka.
‘Nadoman’ sekaligus menjadi jembatan menuju album penuh perdana Basajan bertajuk “Bewara” yang dijadwalkan rilis pada 10 April 2026. Album ini digadang-gadang akan merangkum eksplorasi spiritualitas, mitologi, dan keseharian masyarakat Priangan dalam spektrum bunyi yang lebih luas.
Sebagai kuartet instrumental eksperimental yang berakar di Kabupaten Bandung dan kini aktif di Jakarta, Basajan konsisten memadukan groove, psychedelic rock, serta pengaruh budaya Sunda dalam setiap karyanya.
Melalui ‘Nadoman’, mereka bukan hanya merawat tradisi, tetapi juga membawanya menembus batas genre dan generasi, membuktikan bahwa warisan tutur bisa bertransformasi menjadi lanskap bunyi yang segar, relevan, dan menggugah di era musik digital.
(*/ell; foto: ist







