Visualindonesia.com,-
Dalam setiap suapan yang menggoda lidah, tersembunyi kisah panjang perjalanan budaya dan sejarah bangsa. Kuliner Indonesia tidak sekadar soal rasa, melainkan jendela yang membuka jejak peradaban Nusantara yang kaya akan tradisi dan akulturasi.
Indonesia Kaya kembali mengangkat kekayaan kuliner dari tiga kota bersejarah; Ternate, Palembang, dan Banten, melalui episode terbaru webseries Kuliner Indonesia Kaya yang tayang di YouTube, sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya dan gastronomi.
Program ini, yang telah berjalan sejak 2017, tidak hanya menampilkan kelezatan hidangan, tetapi juga menggali cerita di baliknya.
“Kami ingin menampilkan nilai sejarah dan filosofi hidup yang terkandung dalam setiap masakan daerah,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Indonesia Kaya. Ia menambahkan, “kuliner adalah bagian dari identitas bangsa yang perlu terus dikenalkan dan diapresiasi generasi sekarang dan mendatang.”

Dimulai dari Ternate, yang dikenal sebagai jalur rempah penting, episode pertama menyoroti tradisi Rimo-rimo, metode memasak tanpa alat modern yang diwariskan secara turun-temurun.
Kris Syamsudin, pendiri Gamalama Spices, menyatakan, “Tradisi ini lahir dari kebutuhan bertahan hidup di hutan, sekaligus menjadi cara hidup yang penuh makna.”
Selain itu, Gohu Ikan, hidangan laut segar tanpa proses pemasakan, memperlihatkan harmoni masyarakat Ternate dengan alam sekitarnya.
Berlanjut ke Palembang, yang dikenal sebagai kota tua di Sungai Musi, penonton diajak menyelami kekayaan kuliner seperti Pindang Ikan dan kue tradisional seperti Delapan Jam dan Maksuba.
“Kue Delapan Jam melambangkan kesabaran dan kecermatan, serta menjadi simbol tradisi dalam pernikahan dan perayaan,” ungkap seorang warga Palembang.
Kuliner ini merefleksikan bagaimana masyarakat kota ini merawat nilai dan ingatan kolektifnya melalui makanan.

Selanjutnya, Banten yang kaya akan jejak Kesultanan menyajikan Sate Bandeng dan Rabeg sebagai bagian dari khazanah kuliner keraton.
“Sate Bandeng lahir dari kreativitas untuk menyajikan bandeng tanpa duri, sebagai bentuk penghormatan kepada tamu kerajaan,” jelas narasumber.
Sedangkan Rabeg, yang terinspirasi dari pengalaman Sultan Maulana Hasanuddin saat menunaikan ibadah haji, menjadi simbol tradisi dan interaksi budaya Arab di Banten.
Renitasari Adrian menegaskan, dokumentasi ini bukan hanya visual, tetapi juga rekaman pengetahuan dan perjalanan budaya yang menyertainya.
“Melalui tayangan ini, kami berharap masyarakat dapat lebih mengenal dan menghargai kekayaan kuliner Indonesia sebagai bagian dari identitas bangsa yang harus terus dilestarikan,” tuturnya.
(*/lia; foto: ist






