Visualindonesia.com,-
Gelombang resonansi khas Priangan akhirnya merambat menembus batas geografis saat Basajan, kuartet musik instrumental Indonesia asal Kabupaten Bandung, resmi mengukuhkan langkahnya dalam Japan Tour 2026.
Pasca penampilan perdana di Wonderfruit Festival 2025 Thailand, formasi ini kini membawa aliran Priangan Psychedelic Groove menyusuri lanskap musik Tokyo hingga Shibuya. Perjalanan ini dirancang tidak hanya sebagai panggung konser, melainkan jembatan strategis untuk mempertemukan akar tradisi Sunda dengan jaringan industri musik global.
Rangkaian agenda dimulai lebih awal pada 9 hingga 10 April 2026 melalui Industry Meetings dan Pitch Sessions di CUEW. Ruang profesional tersebut menjadi tempat anggota band menjalani Music Matching Sessions serta bertemu langsung dengan promotor festival, perwakilan label, dan pemangku kepentingan industri.
Reyhan, gitaris dan synthesizer kelompok tersebut, menekankan bahwa pendekatan ini merupakan fondasi keberlanjutan karier mereka.
“Kami melihat Japan Tour ini sebagai pintu untuk memperkenalkan Basajan ke level berikutnya. Bukan cuma tampil, tapi juga membangun koneksi dan membuka kemungkinan baru ke depan,” ungkapnya.
Puncak eksplorasi suara mereka tiba pada 11 April 2026 di Synchronicity Festival, Shibuya. Penampilan ini justru diselingi momentum penting tepat sehari sebelumnya, yaitu perilisan album perdana berjudul “Béwara” pada 10 April 2026 melalui Bahasa Ibu Records.
Rilis berisi sepuluh trek ini mengupas atmosfer Sunda lewat kerangka kosmologi Tri Tangtu, yang menyatukan dimensi spiritual, dinamika kemanusiaan, dan refleksi akhir dalam satu komposisi yang padu.
Hadirnya materi segar tersebut akan memperkaya setlist panggung sekaligus memberi konteks baru bagi pendengar Jepang.
Jejak tur berlanjut hingga pertengahan April dengan serangkaian pertunjukan di Ruby Room pada 12 April, venue Tokio pada 13 April, dan Basement Bar di Shimokitazawa pada 15 April 2026.
Selain mengisi panggung, Basajan juga menyediakan pengalaman fisik bagi penggemar melalui penjualan compact disc album “Béwara” dan kaos edisi khusus tur Jepang.
Setiap not yang dimainkan dan setiap interaksi di balik panggung menegaskan komitmen kelompok ini dalam memperluas dialog budaya, membuktikan bahwa warisan bunyi Priangan mampu bernafas segar di tengah ekosistem musik instrumental Indonesia yang terus bertransformasi.
(*/ell; foto: ist











