Visualindonesia.com,-
Kilau perjalanan sinema Indonesia kembali menemukan nadinya dalam perayaan satu dekade Palari Films, sebuah tonggak penting yang menegaskan konsistensi mereka melahirkan film berkualitas, berprestasi, dan relevan secara global.
Prestasi festival internasional menjadi cermin dari kiprah rumah produksi yang didirikan oleh Meiske Taurisia, Muhammad Zaidy, dan Edwin ini.
Perjalanan Palari Films bermula dari film “Posesif” yang disutradarai Edwin, sukses menyabet tiga Piala Citra di Festival Film Indonesia 2017. Sejak saat itu, selama satu dekade, mereka telah menghasilkan sepuluh karya lintas format yang konsisten mendapat tempat di hati penonton serta panggung penghargaan nasional dan internasional.
Kesuksesan berlanjut lewat “Aruna & Lidahnya” yang kembali mengukuhkan kualitas produksi mereka. Film ini tak hanya meraih penghargaan di Festival Film Indonesia 2018, tetapi juga menembus panggung global melalui penayangan di Berlin International Film Festival 2019 dalam program Culinary Cinema, memperluas jejak Palari di kancah dunia.
Puncak prestasi internasional dicapai melalui “Seperti Dendam”, “Rindu Harus Dibayar Tuntas” yang meraih Golden Leopard di Locarno Film Festival. Pencapaian ini menjadi tonggak sejarah karena untuk pertama kalinya film Indonesia memenangkan penghargaan utama di festival tersebut, sekaligus melanjutkan perjalanannya ke Toronto International Film Festival dan Busan International Film Festival.
Tak berhenti pada satu gaya, Palari Films terus bereksperimen dengan menggandeng sineas lintas generasi. Kolaborasi dengan Lucky Kuswandi melahirkan “Ali & Ratu Ratu Queens” yang sukses besar di platform digital, bahkan menjadi salah satu tontonan terpopuler di Netflix serta masuk dalam pencarian teratas Google Indonesia.
Ekspansi juga dilakukan melalui serial hingga film horor seperti “Tebusan Dosa” karya Yosep Anggi Noen.
“Sepuluh tahun dan setiap cerita yang menemukan jalannya. Kami menoleh ke belakang sebelum melangkah maju,” ujar Muhammad Zaidy, menegaskan refleksi sekaligus arah baru Palari Films menuju cakrawala yang lebih luas.
Memasuki dekade kedua, Palari Films mengumumkan tujuh proyek terbaru, termasuk “Monster Pabrik Rambut” yang disutradarai Edwin dan dijadwalkan tayang 4 Juni 2026 setelah world premiere di Berlin International Film Festival 2026.
Film ini dibintangi Iqbaal Ramadhan bersama sejumlah aktor lain, sekaligus menandai keterlibatan Iqbaal sebagai produser eksekutif.
“Palari Films selalu mendorong batas kreativitas dan memberi ruang luas bagi talenta baru,” ujar Iqbaal, menegaskan peran rumah produksi ini sebagai inkubator kreatif di industri film Indonesia.
Selain itu, proyek ambisius lain hadir melalui “Desember Jani” karya Ariani Darmawan, sebuah film panjang debut yang menjadi proyek all-women. Film ini telah menarik perhatian internasional setelah masuk program Hong Kong–Asia Film Financing Forum 2026, menandai kembalinya Ariani setelah satu dekade hiatus.
Eksplorasi medium juga dilakukan lewat adaptasi album “Menari dengan Bayangan” menjadi film layar lebar yang disutradarai Edwin, dengan Baskara Putra sebagai produser eksekutif.
“Perjalanan baru bagi karya ini dalam medium berbeda,” ujar Baskara, menyoroti transformasi lintas disiplin seni.
Komitmen pada regenerasi sineas tampak dari kolaborasi dengan Khozy Rizal dan Aditya Ahmad, yang masing-masing akan menggarap film panjang debut mereka, termasuk Goldfish yang sebelumnya telah mengikuti program residensi di Cannes Film Festival dan Torino Film Lab.
Langkah global Palari Films semakin diperkuat melalui proyek ko-produksi internasional Strange Root bersama sineas Singapura, memperluas jaringan kolaborasi lintas negara yang telah dibangun selama satu dekade.
Perayaan 10 tahun ini juga diramaikan dengan peluncuran merchandise eksklusif bersama Goods Dept serta program pemutaran film di Krapela, Jakarta, hingga pameran perjalanan Palari Films di Museum MACAN yang menampilkan berbagai memorabilia karya mereka.
“Sepuluh tahun adalah masa mengumpulkan kepercayaan,” ujar Meiske Taurisia.
Ia menegaskan bahwa masa depan Palari Films akan berfokus pada keberlanjutan, kolaborasi lintas negara, serta eksplorasi kreativitas yang lebih berani. Ajakan sederhana pun ia tutup dengan harapan besar, agar penonton terus mendukung film Indonesia.
(*/cia; foto: ist











