Visualindonesia.com,-
Dalam bisik angin pegunungan Banten, Suku Baduy memilih sunyi. Tanpa listrik, tanpa gawai, hanya irama alam yang jadi nyanyian pagi. Di tengah gempuran teknologi, komunitas adat di Kabupaten Lebak ini tetap teguh memegang tradisi leluhur, menjadikan kearifan lokal sebagai tameng dari arus perubahan.
Suku Baduy mendiami wilayah Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Kehidupan mereka yang berada di kawasan pegunungan membuat masyarakat ini sangat erat dengan alam dan tradisi. Mereka terbagi menjadi dua kelompok utama, yakni Baduy Dalam dan Baduy Luar.
Baduy Dalam dikenal paling konsisten menolak teknologi modern seperti listrik, kendaraan, dan peralatan elektronik. Sebaliknya, Baduy Luar mulai lebih terbuka, beberapa di antaranya sudah menggunakan penerangan listrik sederhana serta menerima kunjungan dari wisatawan.
Salah satu fakta unik, warga Baduy Dalam setiap tahun berjalan kaki puluhan kilometer hingga ke Jakarta. Mereka mempersembahkan hasil bumi kepada pemerintah dalam ritual adat yang berlangsung berhari hari.
“Perjalanan ini bentuk penghormatan kami pada alam dan penguasa,” ujar salah satu tetua adat.
Mereka juga dilarang menggunakan sabun dan detergen saat mandi atau mencuci di sungai. Semua kegiatan bersih dilakukan secara alami demi menjaga kelestarian air dan lingkungan. Prinsip harmoni dengan alam diterapkan dari cara bercocok tanam hingga pembangunan rumah tanpa material logam, cukup dengan pasak kayu atau tali ijuk.
Dari pakaian pun identitas mereka tampak jelas. Baduy Dalam mengenakan serba putih atau ikat kepala tanpa motif, melambangkan kesucian. Sementara Baduy Luar menggunakan kain hitam atau biru tua dengan ikat kepala serupa sebagai simbol keterbukaan terhadap dunia luar.
(*/lia; foto: dok. Kemenpar











![PLAYWOOD-ICHWAN NOOR[2][1]](https://www.visualindonesia.com/wp-content/uploads/2015/10/PLAYWOOD-ICHWAN-NOOR21-1.jpg)

