Visualindonesia.com,-
Di tengah hamparan keindahan Sumba yang memukau, sebuah kisah tentang perjuangan batin, iman, dan krisis keyakinan terbentang dalam film “Yohanna”.
Produksi kolaborasi Indonesia, Inggris, dan Italia ini mengisahkan perjalanan seorang biarawati muda yang ditugaskan ke Sumba pasca bencana siklon Seroja, membawanya pada penemuan tak terduga tentang dunia pekerja anak dan potret kemiskinan yang mendalam.
Tahun 2024 menjadi latar ketika Suster Yohanna, dengan tekad suci untuk mengabdi di jalan Tuhan, justru terjerumus ke dalam pusaran eksploitasi anak di Sumba.
Perjalanan kemanusiaannya dimulai dengan niat mulia menyalurkan donasi, namun takdir berkata lain saat truk yang dipinjamnya untuk misi tersebut dicuri orang tak dikenal, memaksanya memulai pencarian yang membuka mata terhadap realitas pahit di sekitarnya.
“Suster Yohanna ingin menyalurkan donasi bantuan sosial ke masyarakat Sumba yang terlanda bencana,” ungkap sutradara Razka Robby Ertanto, menjelaskan motivasi awal sang tokoh utama.
Namun, dalam upayanya, Yohanna justru berhadapan dengan berbagai bentuk eksploitasi anak dan potret kemiskinan yang mengguncang pandangannya terhadap dunia dan panggilan keyakinannya.
Penemuan kondisi sulit dan lingkungan berbahaya yang dihadapi pekerja anak di NTT secara fundamental mengubah cara pandang Yohanna.
“Yohanna menemukan pekerja anak dalam kondisi sulit dan harus bekerja di lingkungan berbahaya,” papar Robby Ertanto.
Realitas sosial yang begitu gamblang di depan mata menggoyahkan keyakinannya, namun ia tetap teguh sebagai insan yang bekerja di ladang Tuhan.
“Anomali ini di ending yang saya visualkan secara pasti. Truk hilang yang tak ketemu toh tak lagi penting tapi Yohanna menemukan ketimpangan sosial di bumi Sumba yang gersang dan krisis air bersih,” imbuh Robby Ertanto, sutradara yang dikenal dengan karya-karya sebelumnya seperti “Ave Maryam”.
Kali ini, ia memilih gaya bertutur yang lebih realistis dan jujur, memukau penonton dengan keindahan sinematik Sumba yang masih perawan.
Film “Yohanna”, yang dijadwalkan tayang di bioskop pada 9 April 2026 dan didistribusikan internasional oleh Summerland, diperkuat oleh jajaran aktor berkualitas, Laura Basuki sebagai Yohanna, didukung oleh penampilan impresif dari Jajang C. Noer, Kirana Grasela, dan finalis Indonesian Idol asal Sumba, Iqua Tahlequa.
Penampilan cemerlang Laura Basuki sebagai Yohanna tak hanya memukau penonton, tetapi juga menuai pengakuan internasional dengan terpilihnya ia sebagai aktris terbaik di Festival Film Roma, Italia.
Sutradara Robby Ertanto pun tak kalah gemilang, menyabet penghargaan sutradara terbaik di Festival Film Rotterdam, Belanda. Prestasi “Yohanna” semakin lengkap dengan raihan Film Terbaik Pilihan FFTempo 2024 dan lima penghargaan di JAFF 2024.
(*/cia; foto: ist










