Visualindonesia.com,-
Jauh sebelum tren salad bowl dan smoothie bowl menyerbu media sosial, Indonesia sudah punya “salad tradisional” versi sendiri yang tidak kalah keren dan tentu saja jauh lebih nendang di lidah. Namanya rujak, kuliner khas Indonesia berbumbu yang sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Nusantara selama berabad-abad, dan keberadaannya tersebar dari ujung Sabang sampai sudut-sudut kota paling timur Indonesia.
Bukan cuma sekadar buah-buahan disiram bumbu kacang. Rujak di Indonesia hadir dalam beragam bentuk, bahan, dan cita rasa yang mencerminkan kekayaan budaya tiap daerahnya. Ada yang segar dan pedas, ada yang gurih berat karena pakai cingur alias moncong sapi, ada juga yang tampil modern dengan topping es krim. Keberagaman inilah yang bikin rujak bukan sekadar jajanan pinggir jalan, tapi juga simbol kreativitas kuliner bangsa.
Popularitas rujak bahkan sampai melahirkan agenda tahunan resmi bernama Festival Rujak Ulek yang masuk dalam Karisma Event Nusantara dari Kementerian Pariwisata. Festival ini sudah digelar sejak 2004, dan di tahun 2026 hadir dengan tema “Rujak Pestaphoria” untuk menyambut Piala Dunia, memadukan semangat pesta bola dengan warna-warni budaya Indonesia. Ada kompetisi kreasi rujak, kostum terbaik, sampai penampilan meriah yang sayang banget untuk dilewatkan.
Kalau ngomongin jenis yang paling familiar, rujak buah adalah juaranya. Mangga muda, nanas, jambu, kedondong, dan mentimun segar disiram bumbu kacang, gula merah, cabai, dan asam, menghasilkan perpaduan rasa manis-asam-pedas yang bikin ketagihan.

Tapi kalau kamu mau naik level, ada rujak cingur dari Surabaya yang jauh lebih kompleks: irisan buah, sayuran, lontong, tahu, tempe, ditambah potongan moncong sapi yang sudah direbus empuk, lalu disiram saus petis hitam yang kental dan kuat.
“Cingur itu dalam bahasa Jawa artinya hidung atau moncong sapi,” begitu yang sering dijelaskan penjual rujak cingur khas Suroboyo.
Melompat ke Aceh, ada rujak u groh yang karakternya beda banget dari rujak kebanyakan. “U” berarti kelapa, “groh” berarti muda, jadi secara harfiah ini adalah rujak kelapa muda. Tanpa bumbu kacang, tanpa keramaian rasa yang meledak-ledak, u groh tampil simpel dengan serutan kelapa muda yang dicampur cabai, gula, garam, dan perasan jeruk, menghasilkan rasa gurih-pedas-segar yang adem di mulut tapi tetap berkarakter.
Jakarta pun punya jagoannya sendiri berupa rujak juhi, kuliner yang mengandalkan juhi alias cumi-cumi kering yang sudah direndam hingga empuk sebagai bahan utama. Dicampur bihun, kentang rebus, kol, selada, dan mentimun, lalu disiram bumbu kacang kental dengan sentuhan cuka, hasilnya adalah perpaduan gurih seafood, manis, dan sedikit asam yang teksturnya sangat beragam dalam satu suapan.
Sementara Palembang memperkenalkan rujak mie, varian yang menggabungkan mie kuning dan bihun dengan kuah cuko khas pempek yang asam-manis-pedas, dipadukan bumbu kacang. Kalau sudah ada pempek atau kerupuk sebagai pelengkap, satu porsi rujak mie ini bisa jadi makan besar tersendiri.
Bali membawa kejutan besar lewat rujak kuah pindang yang menggunakan kuah kaldu ikan tuna atau tongkol sebagai pengganti bumbu kacang. Buah-buahan segar seperti mangga muda, kedondong, dan timun disiram kuah pindang yang sudah dibumbui cabai, terasi, garam, dan gula, hasilnya adalah rasa yang tajam, berani, dan sedikit amis dari kuah laut yang menjadi ciri khas kuliner pesisir Bali.
Masih di ranah yang segar, rujak gobet dari Malang tampil dengan buah-buahan yang diserut halus sehingga bumbu lebih mudah meresap, plus kuah yang lebih encer dari biasanya, seolah menjadi minuman sekaligus makanan. Sangat cocok disantap siang bolong.
Tidak ketinggalan, ada juga yang main di ranah tradisi laut. Rujak bulung dari Bali dan Lombok mengandalkan rumput laut sebagai bahan utamanya, dicampur buah segar dan bumbu manis-asam-pedas. Teksturnya kenyal dan lembek dari rumput laut, tapi tetap segar dan justru dinilai lebih sehat karena kandungan serat dan mineralnya yang tinggi.
Di ujung lain spektrum, Yogyakarta melahirkan rujak es krim, kreasi modern yang membenturkan potongan buah segar dengan es krim vanila atau cokelat, lalu diguyur bumbu gula merah, cabai, dan asam. Kontras antara dinginnya es krim, pedasnya bumbu, dan segarnya buah menciptakan sensasi yang tidak ada duanya, dan menjadi daya tarik utama bagi wisatawan muda yang penasaran.
Lalu ada rujak soto dari Banyuwangi, yang mungkin adalah kreasi paling nekad dan paling mengejutkan: rujak cingur dengan kuah soto panas dituangkan di atasnya. Gurih kaldu, harum rempah, manis pedas bumbu rujak, semuanya hadir dalam satu mangkuk hangat yang biasa dinikmati sebagai sarapan.
Dari yang paling tradisional hingga yang paling kreatif, rujak adalah bukti nyata bahwa kuliner Indonesia tidak pernah kehabisan kejutan. Satu nama, seribu rasa, seribu cerita daerah.
(*/dee; foto: dok. Kemenpar






