Visualindonesia.com,-
Langkah-langkah anggun para perempuan berbusana modis seolah menjadi orkestra tersendiri, warna-warni busana pilihan mereka berpendar bak lukisan hidup yang bergerak, sementara aroma kemewahan menguar pelan dari deretan tas branded dan jam tangan langka yang menanti tangan-tangan tepat untuk memilikinya. Main Atrium PIK Avenue, Jakarta Utara, menjelma panggung gaya hidup paling memukau kota ini saat The Collectors Club resmi membuka tirainya, 27-31 Mei 2026.
Ajang lifestyle bertema luxury collectors playground ini hadir bukan semata sebagai bazar fashion biasa, melainkan sebagai platform resmi yang mempertemukan para reseller preloved luxury dan penjual collectible items terpercaya dengan para pembeli yang semakin cerdas.
Puluhan perempuan bergaya modis memadati area pameran yang menawarkan beragam produk premium mulai dari tas, sepatu, jam tangan, fashion item, hingga kuliner pilihan dalam satu atap.
Salah satu owner dan inisiator The Collectors Club, Andrew Hirawady, mengungkapkan bahwa pemilihan kawasan PIK Avenue bukan kebetulan. Momentum long weekend dimanfaatkan penyelenggara untuk menjangkau segmen masyarakat Jakarta yang tengah mencari alternatif wisata belanja premium. Lebih dari itu, Andrew melihat celah pasar yang justru menguat di tengah tekanan ekonomi nasional.
“Di saat ekonomi seperti ini, demand barang-barang preloved itu sedang baik dan naik. Dengan adanya kesempatan membeli barang second dengan harga yang good deal, justru peminatnya bertambah,” ujar Andrew dalam keterangan pers yang diterima redaksi visualindonesia.com, Jumat (29/5/2026).
Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Memasuki penghujung pameran, Andrew memastikan penyelenggara tidak menetapkan target penjualan sejak awal. Alasannya sederhana namun strategis: tujuan utama acara ini adalah mempromosikan ekosistem para reseller preloved luxury dan penjual collectible items, bukan sekadar mencatat angka transaksi.
Hasilnya, antusiasme pengunjung berbicara lebih keras. Untuk perempuan, tas menjadi kategori paling diminati. Untuk laki-laki, jam tangan menjadi incaran utama.
Soal kenaikan dolar yang sempat menembus Rp17.800, Andrew justru memandangnya dari sudut berbeda. Karena produk yang dijual para tenant merupakan barang impor berpatokan harga dolar, kenaikan nilai tukar secara otomatis mendongkrak value barang tersebut.
“Apabila dolar naik maka harga produk yang mereka beli value-nya juga ikut naik. Dan karena collectible items, jadi bisa dijual kembali,” tegasnya.
Artinya, barang preloved luxury kini bergeser fungsi, bukan lagi sekadar barang konsumsi, melainkan aset yang bisa dilikuidasi.
Sebanyak 48 tenant ambil bagian dalam gelaran perdana ini dengan kurasi produk yang ketat. Penyelenggara bahkan menggandeng jenama seni Emoti untuk menghadirkan instalasi paintings dan sculpture, memastikan pengunjung punya alasan lebih dari sekadar berbelanja.
Owner sekaligus inisiator lainnya, Revyta Gouw, menegaskan pengalaman baru adalah kunci agar acara ini meninggalkan kesan.
“Kita harus tambah experience baru bagi pendatang. Jadi mereka datang nggak cuma belanja, mereka bisa menikmati situasi, foto-foto, melihat art, dan memanjakan mata,” kata Revyta.
Autentisitas menjadi garis merah yang tidak bisa ditawar. Andrew menegaskan seluruh tenant yang ikut serta telah melewati seleksi rekam jejak, bebas dari histori menjual produk palsu, dan setiap barang dilengkapi sertifikasi autentikasi.
“Nomor satu yang kita utamakan adalah authenticity-nya. Peserta yang ikut serta dalam acara ini adalah mereka yang sudah terbukti tidak pernah ada histori menjual produk palsu,” tegasnya.
Penyelenggara pun siap mengambil tindakan tegas jika ditemukan produk mencurigakan selama pameran berlangsung.
Untuk memanjakan pengunjung setia, program Privilege Shopping turut disiapkan. Setiap transaksi kelipatan Rp1 juta berkesempatan memenangkan art pieces Bearbrick limited edition senilai Rp13 juta yang akan diumumkan pada hari terakhir.
Melihat sambutan luar biasa pada penyelenggaraan perdana, The Collectors Club dijadwalkan kembali hadir pada Agustus mendatang. Andrew dan Revyta membayangkan acara ini tumbuh menjadi ruang berkumpul yang inklusif bagi siapa saja yang ingin menyerap atmosfer lifestyle modern Jakarta tanpa tekanan.
“Kami ingin acaranya seru, fun, dan nggak boring. Semua boleh datang, mau belanja atau sekadar melihat-lihat dan foto-foto juga nggak masalah. Yang penting menikmati ambience-nya,” tutup mereka.
(*/dee; foto: drel













