Visualindonesia.com,-
Bak sepotong kaca yang pecah namun tetap memantulkan cahaya, film “Tanah Runtuh” menghadirkan kisah menyentuh tentang ikatan keluarga dan kekuatan hati di tengah peristiwa besar yang pernah mengguncang Indonesia.
Denny Siregar Production secara resmi merilis trailer dan poster resmi karya terbaru ini, yang siap membawa penonton menelusuri perjalanan emosional penuh makna, mengangkat tema kehilangan, harapan, dan persaudaraan yang tumbuh di saat segalanya terasa runtuh.
Disutradarai Rudi Soedjarwo dan diproduseri Denny Siregar, film ini berlatar peristiwa kerusuhan di Desa Tanah Runtuh, Poso, Sulawesi Tengah. Cerita berpusat pada Kai, diperankan Yoan, dan kakaknya Ringgo yang diperankan Ridho Khaliq—seorang anak dengan sindrom Down—yang terpisah dari ibunya, Emmy, di tengah kekacauan yang meluas.
Berbekal tekad kuat, Kai membawa kakaknya berkelana dari satu pengungsian ke pengungsian lain, menghadapi ketakutan dan ketidakpastian demi bersatu kembali dengan orang yang mereka cintai.
Di tengah perjalanan yang berat itu, mereka bertemu Idham, anggota kepolisian yang diperankan Vino G. Bastian. Awalnya hanya bertugas mengamankan wilayah dan menangani konflik, pertemuan itu perlahan mengubah tujuan Idham menjadi lebih pribadi dan mendalam.
Ia pun berjanji mendampingi serta membantu kedua anak itu, hingga perjalanan berbahaya tersebut membentuk ikatan persaudaraan dan tanggung jawab yang tak terduga di antara mereka.
“Buat saya, ‘Tanah Runtuh’ bukan sekadar cerita tentang konflik, tapi tentang bagaimana manusia tetap berusaha saling menjaga di tengah situasi yang kacau. Idham hadir sebagai sosok yang awalnya hanya menjalankan tugas, tapi perjalanan bersama Kai dan Ringgo membuat dia melihat banyak hal secara lebih personal. Itu yang membuat film ini terasa sangat manusiawi,” ungkap Vino G. Bastian.
Trailer yang dirilis memperlihatkan potongan adegan yang memadukan ketegangan dan kehangatan, mulai dari suasana pengungsian yang penuh tekanan, perjalanan melintasi wilayah konflik, hingga momen-momen kecil yang mempererat hubungan antar tokoh.
Sementara itu, poster resmi menampilkan nuansa tenang namun sarat emosi, merefleksikan inti cerita tentang pencarian, kehilangan, serta kekokohan ikatan keluarga yang tak tergoyahkan.
Bagi Rudi Soedjarwo, film ini merupakan upaya memandang sejarah dari sudut pandang yang berbeda dan lebih peka.
“Saya ingin membuat film yang lebih hening. Bukan tentang sejarah konflik yang terjadi selama bertahun-tahun, tetapi kita lihat dari kacamata yang berbeda, yaitu tentang bagaimana dampak yang dirasakan oleh manusia-manusia di dalamnya, tentang kehilangan, kerusakan hubungan, dan harapan yang tetap ada ketika semuanya terasa runtuh,” jelasnya.
Lebih dari sekadar karya seni, “Tanah Runtuh” juga mewujudkan visi inklusif dalam perfilman Indonesia. Karakter Ringgo tidak hanya dihadirkan sebagai pelengkap atau simbol, melainkan sebagai pusat dari seluruh perjalanan emosional cerita.
Lewat film ini, Denny Siregar Production ingin membuka ruang empati bagi penonton sekaligus menyampaikan pesan bahwa setiap orang, tanpa terkecuali, memiliki tempat dan kisah berharga untuk diceritakan.
Dibintangi oleh deretan aktor berbakat seperti Sigi Wimala, Jenda Munthe, dan Tike Priatnakusumah selain para tokoh utama, film ini menjadi drama reflektif yang mengajak penonton merenungi kembali makna kemanusiaan.
“Tanah Runtuh” siap tayang secara serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai tanggal 25 Juni 2026, membawa pesan abadi bahwa harapan selalu ada, bahkan di tanah yang tampak runtuh sekalipun.
(*/cia; foto: ist












