Visualindonesia.com,-
Cahaya matahari Negeri Sakura sempat menyapa lewat beragam konten yang dibagikan Leony Vitria ke media sosialnya akhir tahun lalu, namun di balik setiap potret dan rekaman itu tersimpan sebuah karya besar yang sedang ia rajut.
Mantan penyanyi cilik ini tak hanya berlibur, melainkan terlibat dalam proses syuting film terbaru berjudul “10 Days In Machida: Ayah Kamu di Mana”, sebuah karya yang kini menjadi sorotan penggemar perfilman tanah air.
Produksi ini mempertemukan bakat terbaik dari Indonesia dan Jepang dalam satu bingkai cerita. Selain Leony yang memerankan tokoh utama, deretan nama yang ikut membintangi meliputi Alexander Wlan, Nobuyuki Suzuki, Miyuki Sato, hingga Paramitha Rusady. Kolaborasi lintas negara ini menjanjikan warna baru yang memadukan nuansa budaya kedua bangsa dalam setiap adegannya.
Di balik layar, proses pembuatan film ini dipimpin oleh Ganank Dera selaku produser sekaligus sutradara yang berbagi peran dengan Awe Bumi Dewata. Ganank sendiri bukan nama baru di industri ini, ia sebelumnya dikenal lewat karyanya sebagai sutradara film “Samawa” (2025) dan penulis skenario “Di Balik Pintu Kematian” (2025), sehingga karya terbarunya ini ditunggu antusiasme penikmat film.
Cerita yang diusung mengangkat tema kerinduan mendalam dan pencarian jati diri yang menyentuh hati. Kisah berpusat pada Kartika, tokoh yang diperankan Leony, yang nekat berangkat ke Jepang tepat sebelum hari pernikahannya demi menelusuri jejak ayah yang telah lama hilang kontak di kota kecil Machida. Ia memberikan batas waktu sepuluh hari untuk menemukan jawaban, meski risiko kehancuran atas segala kepercayaan yang ia miliki siap menantang langkahnya.
“Saya tertarik mengangkat cerita ini karena fenomena ‘fatherless’ bukan sekadar isu personal, tapi realitas sosial yang nyata,” ujar Ganank Dera.
Ia menambahkan, kondisi ini erat kaitannya dengan sejarah pekerja migran Indonesia sejak tahun 90-an, di mana banyak keluarga harus hidup dengan kisah yang tak pernah utuh, dan film ini hadir untuk masuk ke dalam ruang sunyi tersebut.
Pemilihan lokasi syuting di Machida pun bukan tanpa makna, mengingat suasana kota itu yang terasa dingin, asing, dan sepi di mata pembuat film.
“Sebuah representasi dari jarak emosional antara orang tua dan anak. Kota ini menjadi karakter tersendiri: tenang di permukaan, tapi menyimpan kesendirian yang dalam,” jelas Ganank.
Secara keseluruhan, film ini menjadi simbol tentang jarak, baik yang terukur secara geografis maupun yang terasa di dalam hati. Karya ini menceritakan keberanian untuk pulang dan usaha sulit namun indah untuk saling menemukan kembali.
Proses produksi hingga pasca produksi telah rampung sejak Desember lalu, dan saat ini tim produksi masih menunggu jadwal penayangan resmi di bioskop-bioskop Indonesia.
(*/cia; foto: ist













