Visualindonesia.com,-
Bagai angin segar yang menyapu lanskap industri konten digital, ShortChall, platform video pendek berbasis Web3, kini melebarkan sayapnya ke seluruh dunia dengan menawarkan konsep revolusioner: setiap aktivitas daring pengguna berpotensi berubah menjadi imbalan ekonomi nyata berkat dukungan teknologi blockchain.
Kehadiran layanan ini turut menyasar pasar Indonesia, membuka babak baru persaingan dan peluang di ranah media sosial modern.
Ekspansi ke Tanah Air dijalankan melalui kerja sama strategis dengan Vita World, yang dipimpin oleh sosok terkenal Anang Hermansyah dan Hur Young Soon. Langkah ini dirancang tak hanya untuk memperkuat penetrasi pasar, tapi juga membangun fondasi ekosistem yang memihak para kreator lokal agar bisa tumbuh dan berkembang lebih luas.
Berbeda dengan platform umumnya yang cenderung menahan sebagian besar keuntungan, ShortChall menerapkan sistem distribusi yang transparan dan adil. Mulai dari menonton video, memberikan suara dukungan, hingga mengunggah karya orisinal, seluruh interaksi pengguna dihitung dan diubah menjadi reward yang bisa dirasakan manfaatnya secara langsung.
“Kolaborasi ini jadi tonggak penting, karena kami ingin memastikan kreator di Indonesia punya ruang yang setara dan kesempatan mendapatkan penghasilan dari karya dan partisipasi mereka,” ujar Anang Hermansyah selaku Managing Director Vita World dalam jumpa pers di Lumiere Signature, Radio Dalam, Jakarta pada Rabu, (22/4/2026).
Ia menambahkan, ke depannya akan hadir rangkaian tantangan berkelanjutan yang melibatkan figur publik dan komunitas, agar antusiasme pengguna tetap terjaga dalam jangka panjang.
Ashanty turut mendukung penuh langkah ini, bahkan mengajak seluruh masyarakat untuk segera merasakan pengalaman baru tersebut. Menurutnya, keuntungan bisa didapatkan dengan cara yang sangat mudah, cukup dengan mengunduh, menonton, hingga membagikan konten ke jaringan masing-masing.
Keunggulan lain yang ditonjolkan adalah kematangan sistemnya, karena platform ini sudah melalui proses pengembangan selama tiga tahun sebelum resmi diluncurkan pertama kali di Korea Selatan, sehingga kinerja dan keamanannya sudah teruji.
“Ini adalah tantangan pertama yang dijalankan langsung bersama tim Indonesia, jadi momennya spesial. Masih baru, jadi kesempatan untuk menang dan berkembang jauh lebih besar. Saya harap ShortChall bisa cepat diterima, berkembang pesat, dan jadi wadah kolaborasi seru bagi seluruh pelaku industri hiburan tanah air,” tegas Ashanty.
Sebagai penanda kehadiran resmi, ShortChall meluncurkan program perdana bertajuk “Jodohku Challenge”, yang terinspirasi dari lagu legendaris milik Anang dan Ashanty. Kompetisi ini membuka kesempatan bagi siapa saja untuk membuat video kreatif berdurasi maksimal satu menit, dengan total hadiah senilai Rp100 juta.
Pemenang utama akan membawa pulang uang tunai Rp50 juta sekaligus mendapatkan keistimewaan sebagai duta merek resmi ShortChall selama satu tahun penuh.
Dari sisi performa global, per Maret 2026 platform ini sudah hadir di 226 negara dengan total pengguna mencapai 1,7 juta orang, bahkan terus bertambah sekitar 50.000 pengguna baru setiap harinya. Dengan fokus pengembangan awal di kawasan Asia, ShortChall menyasar potensi pasar video pendek dunia yang nilainya diperkirakan sudah melampaui 100 miliar dolar AS.
Pendapatannya sendiri berasal dari beragam sumber, mulai dari iklan digital, tantangan bersponsor, hingga sistem berlangganan, sehingga ekosistemnya bisa terus berjalan dan berkembang secara berkelanjutan.
(*/dee; foto: mm







