Visualindonesia.com,-
Rutinitas yang berulang sering kali menyimpan jejak masa lalu yang tak kasatmata, membentuk pola pikir dan luka batin yang diwariskan lintas generasi. Mengangkat tema generational trauma yang sarat makna, Dipha Barus dan Baskara Putra alias Hindia memadukan sensitivitas musik dan lirik dalam karya terbaru mereka bertajuk ‘Nafas’.
Rilis pada 24 April 2026, lagu ini hadir bukan sekadar sebagai hiburan, melainkan cermin bagi siapa saja yang berjuang melanjutkan hidup di tengah bayang-bayang masa lalu.
Ide penciptaan bermula dari komposisi musik yang dibangun Dipha Barus dengan nuansa repetitif, layaknya siklus yang terus berputar. Ketika demo tersebut didengar oleh Baskara, ia langsung menangkap metafora gerak yang konstan, serupa dengan ritme berlari atau berolahraga.
Dari situ lahirlah konsep lirik yang menggambarkan perjuangan sehari-hari yang terus berjalan meski ada beban yang mengganggu di pikiran.
“Kalau harus describe ‘Nafas’ dalam satu kalimat, itu lagu tentang daily struggle saja sebenarnya. Kayak melewati hal-hal kecil yang inconveniently mengganggu hidup, tapi tetap dijalani. Selalu ada hal-hal yang mengganggu, tapi tetap carry on saja. Struggle, tapi tetap lanjut,” ujar Baskara.
Di lapisan yang lebih dalam, lagu ini menjadi wadah untuk memahami akar perilaku diri sendiri. Bagi Baskara, ‘Nafas’ mengajak pendengar untuk menyadari bahwa siklus yang dialami saat ini sering kali merupakan warisan dari orang tua dan nenek moyang.
Kunci untuk berdamai dan memutus mata rantai tersebut dimulai dari pengakuan dan melepaskan dendam, sehingga pandangan terhadap hidup pun berubah.
Perspektif ini selaras dengan pengalaman pribadi Dipha Barus, yang mengaku tema ini muncul secara organik setelah ia menjadi seorang ayah. Ia mulai melihat pola-pola emosional yang terbawa sejak kecil, termasuk budaya diam yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Menurutnya, apa yang sering dianggap sebagai penderitaan pribadi, sesungguhnya adalah luka kolektif yang terindividualisasi.
“Gue tumbuh di era di mana diam adalah bentuk bertahan hidup. Generasi orang tua gue hidup di bawah rezim yang ngajarin untuk nggak banyak bicara, untuk menelan. Dan warisan itu bukan cuma politik, tapi emosional, dia ngendap di cara kita mencintai, marah, menahan, sampai ke core memory gue,” ungkap Dipha.
Secara musikal, Dipha menciptakan kontras yang menarik. Ia membangun aransemen yang dinamis namun tetap menempatkan vokal Baskara sebagai pusat cerita, layaknya tuan rumah yang bercerita dengan intim.
Konsep ini terinspirasi dari kebiasaan Dipha yang sering berlari untuk menenangkan pikiran, di mana tubuh bergerak maju namun pikiran justru sedang berkontemplasi.
“Buat gue, kontradiksi itu justru yang bikin lagu ini terasa jujur. ‘Nafas’ sebenernya mimik proses itu,” tambahnya.
Lewat karya ini, Dipha menegaskan bahwa musik menjadi ruang aman untuk membicarakan hal-hal yang sulit diucapkan dalam percakapan sehari-hari.
‘Nafas’ menjadi bukti bahwa meski proses penyembuhan belum usai, berdiam diri bukan lagi pilihan yang tepat. Single ini kini sudah dapat didengarkan di seluruh platform musik digital.
(*/ell; foto: ist












