Visualindonesia.com,-
Riuh perubahan zaman, kegelisahan buruh, dan denyut teknologi bertemu dalam ruang seni rupa bertajuk “Transformasi Tanpa Transisi” yang digelar di Survive! Garage, Bantul, Yogyakarta, pada 1 hingga 3 Mei 2026.
Pameran kolaborasi seni rupa yang digagas Kolektif Parkirliar! itu menjadi ruang refleksi sosial tentang percepatan perubahan dari era fisik menuju digital tanpa jeda adaptasi, sekaligus memperkuat wacana seni kontemporer Indonesia yang berpijak pada realitas masyarakat.
Pameran yang merupakan bagian dari rangkaian “Delapan Pameran Seni Visual Tata Kelola Seni Yogyakarta” ini resmi dibuka oleh Arahmaiani pada 1 Mei 2026 pukul 16.00 WIB. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari proses pembelajaran akademik mahasiswa mata kuliah Tinjauan Kelola Pameran 1 Program Studi S1 Tata Kelola Seni, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Antusiasme publik terlihat tinggi sejak hari pertama pembukaan. Sekitar 200 pengunjung memadati ruang pamer, sementara total pengunjung hingga penutupan mencapai lebih dari 400 orang, melampaui target awal penyelenggara sebanyak 300 pengunjung.
Kehadiran publik lintas kalangan memperlihatkan besarnya perhatian terhadap isu sosial yang diangkat melalui medium seni rupa.
Rangkaian pembukaan diawali dengan sambutan dari Arahmaiani yang menyoroti pentingnya seni sebagai ruang kritik dan kesadaran sosial. Acara kemudian dilanjutkan sambutan dari Mikke Susanto selaku dosen Tata Kelola Seni serta Trisna Pradita Putra sebagai Ketua Jurusan Tata Kelola Seni.
Setelah seremoni pembukaan, pengunjung mengikuti tur galeri bersama kurator Nabil Hajid Pranata untuk memahami konteks dan gagasan di balik karya-karya yang dipamerkan.
Sebanyak 13 seniman lintas generasi terlibat dalam pameran ini, antara lain Dewi Muliasari, Loka, Dani Dewa Datu, Bobdisorder, Atmosmile, Pangestumu, Bima Batutama, Arya Pandjalu, Totok Buchori, Arahmaiani, Soenarto Pr., Wahdi Sumanto, dan Sudarmi Ds.
Kehadiran para seniman tersebut menghadirkan ragam perspektif mengenai perubahan sosial, relasi kerja, hingga dampak teknologi terhadap kehidupan manusia.
Nuansa pembukaan semakin hidup lewat pertunjukan perform art lilin oleh Sobri yang menyuguhkan simbol-simbol reflektif tentang kerja dan pengorbanan. Atmosfer kemudian dilanjutkan dengan penampilan musik dari Hendrick Pangkale, Khaemr, dan Mario yang memperkaya pengalaman artistik pengunjung secara lebih imersif.
Mengusung semangat Mayday atau Hari Buruh Internasional, pameran ini menyoroti berbagai peran yang kerap luput terlihat dalam arus perkembangan teknologi. Karya-karya yang ditampilkan berbicara tentang ketimpangan, tekanan sosial, hingga perubahan pola hidup masyarakat yang berlangsung begitu cepat tanpa ruang transisi yang memadai.
Respons positif dari pengunjung menjadi penanda keberhasilan penyelenggaraan pameran. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung lancar dan berhasil menghadirkan ruang apresiasi sekaligus refleksi publik terhadap isu sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Melalui “Transformasi Tanpa Transisi”, Kolektif Parkirliar! berharap seni rupa tidak hanya hadir sebagai pengalaman estetis, tetapi juga menjadi medium untuk membangun kesadaran sosial dan memperluas percakapan tentang pengalaman kolektif masyarakat di tengah perubahan zaman yang terus bergerak cepat.
(*/lia; foto: ist












![Colours [e]Motions 1](https://www.visualindonesia.com/wp-content/uploads/2016/05/Colours-eMotions-1-1-1024x570.jpg)
