Visualindonesia.com,-
Jerit ketakutan, bayang-bayang misteri, dan emosi yang menyesak kerap menjadi nyawa sebuah film horor. Namun, hanya segelintir pemain yang mampu mengubah teror di layar menjadi pengalaman yang benar-benar membekas dalam ingatan penonton.
Kemampuan itulah yang mengantarkan Benidictus Siregar dan Callista Arum meraih penghargaan pemain terpilih Festival Film Horor (FFH) edisi Juni 2026.
Festival Film Horor (FFH) menetapkan Benidictus Siregar dari film “Sekawan Limo 2” sebagai pemain pria terpilih dan Callista Arum dari “Tumbal Proyek” sebagai pemain wanita terpilih. Penghargaan tersebut diberikan setelah tim juri melakukan penilaian terhadap film-film horor yang beredar sepanjang periode 13 Mei hingga 12 Juni 2026.
Penilaian dilakukan tanpa melalui tahap nominasi. Tim juri langsung mengamati seluruh film yang masuk dalam periode penjurian dan memilih aktor serta aktris yang dianggap paling menonjol dalam membangun karakter dan mendukung kekuatan cerita.
Ketua Juri FFH, Ismail Uka Uka, mengapresiasi seluruh insan perfilman yang terlibat dalam lima film horor yang dinilai. Menurutnya, para pemain dan kru telah menunjukkan dedikasi tinggi untuk menghadirkan karya terbaik bagi penonton.
“Kami memilih di antara para pekerja seni, maka Benidictus Siregar dari “Sekawan Limo 2” dan Callista Arum dari “Tumbal Proyek” dinobatkan sebagai pemain terpilih. Keduanya bermain apik di dua film tersebut,” ujar Ismail.
Menurut Ismail, Benidictus berhasil menghadirkan karakter yang kuat dan konsisten sepanjang film. Penampilannya mampu menjaga intensitas cerita sekaligus memperkuat daya tarik narasi yang dibangun dalam “Sekawan Limo 2”.
Sementara itu, Callista Arum dinilai sukses menghidupkan emosi yang menjadi fondasi ketegangan dalam “Tumbal Proyek”. Aktingnya mampu mempertegas suasana mencekam dan memberikan kedalaman pada konflik yang dihadirkan film tersebut.
Selain memberikan penghargaan kepada para pemain, FFH juga menyampaikan apresiasi kepada para kru yang bekerja di balik layar. Kualitas teknis film horor Indonesia dinilai terus mengalami peningkatan, terutama pada aspek penyutradaraan dan sinematografi yang semakin matang.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa film horor Indonesia tidak hanya mengandalkan cerita dan kemunculan sosok menyeramkan, tetapi juga semakin kuat dari sisi penggarapan visual serta teknik penceritaan.
FFH sendiri merupakan festival yang rutin digelar setiap tanggal 13 setiap bulan dengan fokus pada perkembangan film horor nasional. Melalui penilaian berkala terhadap film-film yang tayang di bioskop, festival ini berupaya memberikan apresiasi sekaligus menjadi catatan perkembangan genre horor yang terus berkembang di industri perfilman Indonesia.
(*/cia; foto: ist











