Visualindonesia.com,-
Alunan gitar bernuansa pop Indonesia era 1970-an mengalun di sebuah panggung Eropa, dimainkan oleh enam anak muda keturunan Indonesia yang lahir dan besar di Amsterdam, Belanda.
Mereka menamai diri Nusantara Beat, band yang menjadikan musik Indonesia sebagai napas utama setiap karyanya, dan malam itu membuktikan bahwa lirik berbahasa Indonesia ternyata bisa menyentuh hati penonton dari latar budaya yang jauh berbeda.
Nusantara Beat dibentuk pada 2021 oleh enam musisi keturunan Indonesia yang menetap di Belanda. Sejak awal berdiri, mereka konsisten menggali kembali warna musik Nusantara, mulai dari pop era 1960-an dan 1970-an, keroncong, dangdut, hingga folk daerah, lalu memadukannya dengan sentuhan surf rock, soul, dan psychedelic agar tetap relevan di telinga pendengar masa kini.
Perpaduan tersebut menghasilkan musik yang terasa akrab sekaligus segar. Bagi pendengar Indonesia, lagu-lagu Nusantara Beat membangkitkan nostalgia yang familiar, sementara bagi telinga internasional, karya mereka menawarkan warna baru yang berbeda dari arus utama musik global saat ini.

Namun kemunculan Nusantara Beat bukan fenomena tunggal. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak musisi yang justru kembali menengok akar budaya sendiri dan menjadikannya identitas utama dalam bermusik, baik di dalam maupun luar negeri.
Di Indonesia, tren ini terlihat lewat sejumlah kelompok musik yang mengolah ulang unsur lokal ke dalam karya modern. White Shoes & The Couples Company, misalnya, dikenal lewat musik yang menghidupkan kembali estetika pop Indonesia era 1960-an dan 1970-an, dengan aransemen yang banyak dipengaruhi musik film lawas, jazz, swing, hingga bossa nova.
Pendekatan berbeda datang dari The Panturas, band asal Jatinangor yang menggabungkan surf rock, garage rock, dan psychedelic rock dengan cerita lokal, mitologi, serta lanskap pesisir Indonesia. Meski mengusung genre yang lahir dari Barat, karya mereka tetap kental dengan identitas musik Indonesia, membuktikan bahwa modernitas tidak harus mengorbankan akar budaya.
Kebangkitan musik bernuansa Nusantara ini tidak terjadi tanpa sebab. Minat terhadap musik analog dan piringan hitam yang kembali meningkat sejak akhir 2000-an, atau yang dikenal sebagai vinyl revival, turut mendorong ketertarikan baru terhadap musik masa lalu, termasuk pop Indonesia era 1960-an dan 1970-an serta keroncong.
Platform streaming kemudian mempercepat penyebarannya, membuat lagu berbahasa Indonesia bisa ditemukan pendengar di Eropa, Amerika, hingga Asia hanya dengan beberapa kali klik.
Fenomena ini pada akhirnya menegaskan peran musik sebagai medium diplomasi budaya. Ketika band asal Belanda menyanyikan lagu berbahasa Indonesia, yang tercipta bukan sekadar apresiasi musikal, melainkan juga jembatan untuk memahami budaya yang melatarinya.
Pemain cello sekaligus duta budaya dunia, Yo-Yo Ma, pernah menyampaikan pandangannya soal hal ini.
“Culture opens our hearts to one another. And the currency in culture is not money, but trust,” ujarnya.
Saat Nusantara Beat membawakan lagu berbahasa Indonesia di hadapan penonton Eropa, yang terdengar bukan sekadar rangkaian nada dan lirik, melainkan jejak sejarah dan warisan budaya yang melintasi batas negara.
Fenomena ini menegaskan bahwa musik Indonesia tidak lagi hanya hidup di antara Sabang dan Merauke, melainkan menemukan pendengar dan panggung baru di berbagai belahan dunia, membuktikan bahwa di tengah arus global yang kerap menyeragamkan selera, keunikan justru menjadi kekuatan utama musik Nusantara untuk melangkah ke panggung dunia.
(*/ell; foto: ist












